[IMHO] Persepektif Lain Soal Kebijakan Kantong Plastik Berbayar

Kebijakan kantong plastik berbayar yang saat ini sedang ramai diperbincangkan, tentunya mengundang pro dan kontra. Secara pribadi, saya pro mengurangi penggunaan kantong plastik untuk mengurangi limbah kantong plastik yang semakin parah. Namun, di sisi lain ada hal yang menjadi pertanyaan soal kantong plastik berbayar ini yang membuat kontra.

Tujuan kantong plastik berbayar ini baik, dan “seharusnya” bisa membuat orang-orang menggurangi penggunaan kantong plastik. Namun dengan harga Rp 200, bisa dibilang masih sangat murah dan rata-rata orang masih bisa memaklumi, sehingga mereka merasa lebih baik membeli kantong plastik daripada nenteng-nenteng barang. Toh, cuma 200 perak. Atau seperti kemarin, ayah saya membayar Rp 2.000 per kantong. Pertanyaannya, kemanakah uang yang Rp 200 atau Rp 2.000 tersebut? Apakah itu bermanfaat untuk menanggulangi permasalahan kantong plastik saat ini? Atau menjadi “keuntungan tambahan” bagi para penjual? Bayangkan saja, sebuah kantong plastik dihargai Rp 200 atau Rp 2.000, berapa kali lipat keuntungan yang didapat dari “menjual” kantong plastik tersebut? Nah seharusnya biaya yang dibebankan kepada konsumen tersebut harus diperjelas digunakan untuk apa. 

Saya lebih setuju agar para penjual “tidak menjual” kantong plastik, namun menggantinya dengan menjual kantong yang ramah lingkungan. Harganya kisaran Rp 5.000 ke atas, namun manfaatnya bisa digunakan berkali-kali. Bisa menjadi “efek jera” untuk orang yang berbelanja jika tidak membawa kantong sendiri. Selain itu kantong yang sudah dibeli juga masih bisa digunakan seterusnya.

kantong_ramah_lingkungan
Contoh Penggunaan Kantong Ramah Lingkungan di Retail

Permasalahan soal limbah plastik ini juga sebenarnya tidak hanya bersumber dari kantong plastik saja, malahan sebenarnya yang lebih banyak adalah kemasan-kemasan produk yang berbahan plastik yang sebenarnya lebih banyak dibanding kantong plastik itu sendiri. Sebagai contoh, sebuah kantong plastik bisa berisi 10 – 15 bungkus mie instant, dimana bungkus mie instant tersebut terbuat dari plastik. Atau shampoo kemasan saschet atau bungkus permen yang juga terbuat dari plastik. Bungkus-bungkus plastik seperti itu memang kecil-kecil, tetapi jumlahnya sangat banyak dibandingkan dengan kantong plastik. Dan terkadang bungkus-bungkus plastik lebih banyak bereserakan di jalan dibanding kantong plastiknya. Sehingga menurut saya “agak tidak adil” karena yang “kena sanksi” hanya kantong plastik saja, sedangkan bungkus-bungkus plastik lainnya tidak kena sanksi.

Jadi, menurut pendapat pribadi, sebaiknya kebijakan kantong plastik berbayar ini dibahas kembali. Dan menurut saya, kebijakan menjual kantong plastik berbayar sebaiknya diganti dengan menjual kantong yang ramah lingkungan.

Note: Tulisan ini merupakan komentar dari salah satu tulisan di Facebook tentang perspektif soal kantong plastik berbayar oleh Singky Soewadji.

1 thought on “[IMHO] Persepektif Lain Soal Kebijakan Kantong Plastik Berbayar

  1. Bener sih gan, cuma kalo ane pribadi udah suka sama konsepnya. Berbayar. Maksudnya, emang sih plastik bukan berbentuk kantong yang kita suka pake buat belanja aja tapi seengganya mengurangi dari sisi kantong belanja daripada ga sama sekali gitu

Leave a Reply