Bongkar Celengan

Berhubung celengan “Terminator” saya sudah penuh (ga bisa diisi lagi), dan celengan di kaleng bekas sarung pun juga hampir penuh, akhirnya saya memutuskan untuk memecahkan celengan tersebut untuk saya konversi menjadi bentuk tabungan investasi. Celengan tersebut merupakan uang yang bersifat “idle” alias ga dipake dalam waktu lama, jadi saya putuskan untuk menginvestasikan uang yang berada pada celengan tersebut ke dalam bentuk instrumen investasi dinar/dirham (koin emas dan perak). Alasan saya untuk menginvestasikannya ke dalam bentuk dinar/dirham adalah karena dua koin tersebut merupakan mata uang yang bebas inflasi dan juga bersifat syar’i.

Saya sudah memulai untuk melakukan investasi ke dalam dinar/dirham setelah saya membaca buku “Think Dinar!” karangan pak Endy J Kurniawan (National Best Seller). Jika anda membaca buku tersebut (dan saya rekomendasikan anda untuk membacanya), mungkin anda juga akan mulai melakukan hal yang sama seperti saya. Karena investasi menggunakan dinar/dirham tidak perlu menjadi kaya terlebih dahulu. Untuk lebih jelasnya, silahkan anda baca bukunya :D.

Kembali lagi ke soal celengan. Lumayan juga jumlah recehan yang sudah saya kumpulkan dalam celengan  ini. Setelah saya hitung-hitung totalnya ada Rp 238.000 dalam bentuk pecahan Rp 100, Rp 200, Rp 500, dan Rp 1.000 (Ada juga sih pecahan Rp 50, tapi ga diitung karena cuma 2 koin). Celengan tersebut berisi recehan-recehan (koin saja) yang saya kumpulkan setiap kali saya mendapatkan kembalian berupa receh dari mini market, parkiran, dan lain sebagainya (bukan dari ngamen apalagi ngemis ya :D ). Niatnya sih sekedar untuk simpanan saja hingga menggunung (niatnya ampe segalon), tetapi kini saya ubah niat tesebut dengan menkonversi recehan-recehan tersebut menjadi recehan yang lebih bernilai dengan koin dirham (ga cukup buat beli dinar soalnya :p).

Saya mempunyai dua buah celengan plus beberapa recehan nganggur yang ada di excel saya. Celengan yang pertama adalah celengan berbentuk kepala Terminator. Celengan ini merupakan hadiah ulang tahun dari adik kelas saya Desi Purnamasari ketika saya berulang tahun (lupa ulang tahun yang ke berapa). Niatnya dia memberikan celengan tersebut kepada saya agar saya bisa menabung untuk membeli laptop. Tetapi rupanya hanya cukup untuk membayar ongkosnya saja. Isi dari celengan ini adalah sebagai berikut:

  • Rp 100 x 63 = Rp 6.300
  • Rp 200 x 55 = Rp 11.200
  • Rp 500 x 162 = Rp 80.500
  • Rp 1000 x 1 = Rp 1.000

Sehingga total uang receh yang saya simpan pada celengan tersebut berjumlah Rp 99.000. Nanggung banget yah :D, kurang Rp 1.000 biar jadi Rp 100.000. Tapi mau gimana lagi, soalnya celengannya dah ga bisa diisi lagi sih.

Pada celengan kedua yang saya simpan pada kaleng bekas sarung. Isi dari celengan ini adalah:

  • Rp 100 x 90 = Rp 9.000
  • Rp 200 x 40 = Rp 8.000
  • Rp 500 x 171 = Rp 85.500
  • Rp 1000 x 23 = Rp 23.000

Sehingga total uang receh yang saya simpan pada celengan kedua berjumlah Rp 125.500. Lumayan lah :D.

Satu lagi di tambah celengan terakhir yang ada di rumah (sebenarnya sih koin-koin yang terlupakan) ada beberapa puluh receh yang jika dijumlahkan ada sekitar Rp 14.000. Dengan demikian, total recehan yang terkumpul adalah Rp 99.000 + Rp 125.000 + Rp 14.000 = Rp 238.000 (plus beberapa ratus rupiah).

Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya akan menginvestasikan uang tersebut dengan dinar/dirham. Karena nominalnya sedikit, jadi saya hanya bisa menginvestasikannya dalam bentuk dirham. Saat saya menulis ini, harga 1 dirham = Rp 69.884, sehingga dengan uang receh yang telah saya kumpulkan bisa mendapatkan sekitar 3 dirham (lumayan lah). :)

Investasi menggunakan emas ataupun dinar/dirham bukan bertujuan untuk membuat lebih kaya di masa depan, tetapi lebih ditujukan untuk “menjaga daya beli” uang/harta yang kita miliki. Sebagai perbandingan, 1.400 tahun yang lalu (pada zaman Rasulullah s.a.w.) dengan 1 dinar bisa membeli seekor kambing, dan 1 dirham bisa membeli seekor ayam. Sekarang pun dengan 1 dinar kita masih bisa membeli seekor kambing (bahkan kambing yang terbaik) dan dengan 1 dirham kita bisa membeli seekor ayam (bahkan bisa sampai 2 ekor ayam). Jika dibandingkan dengan rupiah, ketika saya masih sekolah SD saya bisa membeli makanan ringan kesukaan saya “Beng-beng” dengan harga Rp 350/pcs. Kini dengan uang yang sama, sangat tidak mungkin bisa membeli “Beng-beng” karena harga “Beng-beng” saat ini bisa mencapai harga Rp 1.500/pcs. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa mata uang dinar (emas) dan dirham (perak) memang merupakan mata uang yang sesungguhnya, karena memiliki nilai daya beli yang tetap (anti inflasi) walaupun 14 abad telah berlalu.

Mungkin itu saja sedikit pemaparan dari saya soal mengapa saya memilih dinar/dirham untuk melakukan investasi saat ini. Untuk lebih memahami soal investasi dengan dinar/dirham bisa baca buku “Think Dinar!” karangan pak Endy. :)

2 thoughts on “Bongkar Celengan

Leave a Reply